Sikap menghadapi suami selingkuh

Pagi tadi sebelum brangkat ngantor..sempet kebaca di koran ada artikel mengenai suami tewas karena selingkuh…woooww horror kan….

 

Trus nyampe kantor..pas lunch ada yg cerita mengenai suami yg selingkuh..halaaah..knapa pada horror sih critanya..akhirnya iseng-iseng coba ngebrows mengenai hal perselingkuhan….damn….kebanyakan terjadi pada lelaki yang ternyata gak punya masalah yg serius2 amat…maksudnya..yaa ..emang dia gak ada kerjaan aja..jadi ada waktu luang untuk selingkuh…sakit jiwa  yaa

 

Ada satu comment mengenai menghadapi suami selingkuh

Saya ambil dari http://forum.dudung.net

 

Pertama Instropeksi diri.

Apa ad yg salah dganku..?

Apakah aku menyalahi aturan..?

Apakah aku membangkang..?

Apakah aku dsb dsb

 

Kedua tanya kamu knpa selingkuh?         
sambil bawa golok…   

 

Ketiga bicarakan bersama

 

Keempat apakah qta punya solusi

Kelima What we have to do now..?

Keenam Gimana depannya. Bwt perjanjian.

Ketujuh klo 6 point di atas gak didapet

 

Cerai aj. Toh 100 juta pria hidup di Indonesia ini. Dan Milyaran pria ad di luar sana. Lagian, seluruh hidup gw gak dipenuhi cowok kn. Ad hal lain juga

 

seprakatt… 

 

kesalahan terjadi tidak boleh 2 kali dengan hal yang sama.. kalo sampai terjadi berkali² itu harus dipertanyakan n harus diambil tindakan tegas

 

Nek Salah Di Benerke ya… (CMIIW).

ipar…oh ipaaarrr….

Urusan ipar-iparan memang seringkali sensitif, apalagi jika menyangkut soal intern rumah tangga. Kuncinya cuma keterbukaan sejak awal.

KONFLIK TIMBUL KARENA BERBEDA KULTUR

Bagaimanapun, kehidupan rumah tangga kita memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan ipar. Apalagi perkawinan di Indonesia, pada dasarnya adalah perkawinan yang melibatkan keluarga besar. Dengan demikian, baik adik, kakak, ayah, maupun ibu, seringkali terlibat atau melibatkan diri ke dalam hidup perkawinan kita. Bahkan, dalam soal-soal yang pribadi pun seperti masalah keuangan, mereka juga terlibat.

Tentunya, bila suami dan istri berasal dari kultur dan punya kebiasaan yang sama bahwa menyokong ipar sah-sah saja dan boleh dilakukan kapan saja serta untuk keperluan apapun, maka tak terlalu jadi masalah. Tak demikian halnya bila suami-istri dibesarkan dalam kultur berbeda, “konflik bisa timbul.” Bahkan, ada, lo, keluarga yang tercerai-berai gara-gara soal uang, “iparnya pinjam uang tapi enggak dibayar atau ada iparnya yang sering merongrong minta uang.” Runyam, kan?

PENYELESAIANNYA CUMA TOLERANSI

Nah, agar terhindar dari konflik setelah menikah, sebaiknya perbedaan-perbedaan tersebut dapat dijadikan acuan selagi pacaran. “Pacaran itu, kan, proses penyesuaian diri sebelum perkawinan” . Jadi, masing-masing harus terbuka dengan kebiasaan keluarga besarnya; apa sistem nilai yang dianut, bagaimana konsepnya tentang kekerabatan, termasuk soal biaya-membiayai ipar-iparnya jika ada yang harus ditanggung.

Apalagi, ada keluarga yang salah mengartikan hubungan sangat erat antara kakak-adik. Misalnya, menganggap milik kakaknya sebagai miliknya juga. Dengan demikian, kekayaan kakaknya atau properti milik kakaknya berarti miliknya juga. Ya, celaka, dong!

Itulah mengapa, segala perbedaan seharusnya dicari toleransi dan titik temunya ketika kita berpacaran. Dengan begitu, bisa meminimalisir konflik kelak setelah masuk ke dunia perkawinan. Jangan lupa, perkawinan di negeri kita bukan cuma antar individu saja, tapi juga melibatkan keluarga besarnya. Jadi, sebaiknya nilai-nilai dan isu-isu keluarga besar juga ikut diperbincangkan selama pacaran.

Selanjutnya, ya, terserah kita. Bila ternyata kita enggak bisa bersikap toleransi, apa boleh buat, hubungan kita dengannya cukup sampai di situ saja. Soalnya, perbedaan-perbedaan tersebut penyelesaiannya cuma toleransi; artinya, saling menghargai dan memahami.

“Jika kesepakatan bisa diterima kedua belah pihak, go ahead, lanjutkan ke perkawinan.” Begitu pula kalau kita suka rela menerima kebiasaan yang dianut calon pasangan kita dan keluarga besarnya, termasuk kebiasaan menyokong ipar, ya, monggo saja.

IPAR MALAH NGELUNJAK

Tapi, bukan berarti perkawinan kita akan mulus-mulus saja, lo. Pasalnya, seringkali persoalan tak lantas selesai begitu saja, sekalipun kesediaan dan kebiasaan menyokong ipar sudah disepakati kedua belah pihak. Namun konfliknya bukan bersumber dari suami-istri itu sendiri, melainkan dari si ipar yang bersikap tak tahu diri. Malah menjelek-jelekkan keluarga kakaknya. Ya, jelas, dong, kalau akhirnya timbul konflik baru gara-gara si ipar ngelunjak.

Ipar yang demikian, sering bersikap dan merasa bahwa kewajiban sang kakaklah untuk membantunya sehingga dia juga ikut “berkuasa” dalam soal apapun. “Pada saat si kakak mau ikut campur, atau mengadu yang tidak-tidak pada keluarnyanya. Kesannya, kan, seperti mengadu domba. Nggak heran kalau si istri gondoknya bukan main.” Si istri juga jadi serba salah; kalau menegur, nanti malah dijauhi keluarga suami. Belum lagi suaminya juga ikut marah-marah karena membela keluarganya. Nah, karena si istri merasa lama-lama dijauhi oleh suami, maka seringkali perkawinan jadi runyam gara-gara soal ipar.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk berbicara tegas kepada ipar yang ngelunjak. Tapi sebelumnya kita harus yakin dulu, pasangan kita berada di pihak siapa.

Tapi bila pasangan kita termasuk tipe pembela keluarga, berarti kita harus siap “perang” besar. Soalnya, memang ada tipe suami atau istri yang right or wrong is my family, “keluarga besarnya dibela mati-matian, sehingga gara-gara sikap ipar, hubungan suami-istri malah bisa memburuk.” Apalagi kalau suaminya juga aji mumpung, “mentang-mentang istrinya bekerja sehingga punya penghasilan sendiri, suami lantas sering take it for granted. Dia pikir, toh, istrinya juga bisa cari duit sendiri, jadi uangnya bisalah untuk membiayai adik-adiknya atau kakaknya. Suami seolah-olah tak peduli dengan kebutuhan rumah tangga inti.” Ya, terang saja istrinya jadi makin bertambah gondok. Iya, kan?

SALING TERBUKA UNTUK CARI SOLUSI

Sebenarnya, bila hubungan suami-istri jadi runyam gara-gara ipar, maka masing-masing pihak harus membuka diri untuk mencari solusi. “Kalau memang bantuan mau tak mau harus diberikan, buatlah daftar skala prioritas,” anjurnya. Misalnya, kalau kita sudah menikah, apa, sih, yang menjadi prioritas kita; apakah untuk anak-anak atau keluarga besar?

Dengan membuat daftar skala prioritas, maka hal-hal diluar masalah keluarga  harus didiskusikan bersama seberapa besar dan untuk keperluan apa saja yang boleh disokong. “Meskipun suami atau istri dibesarkan dalam keluarga yang sering saling bantu-membantu, namun bila sudah menikah hendaknya setiap bantuan yang diberikan kepada adik-adik atau keluarga besarnya harus sepengetahuan pasangannya.” Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk orang lain di luar keluarga inti, suami dan istri sudah sama-sama tahu dan setuju jumlahnya. Dengan demikian, konflik soal tanggung-menanggung ipar bisa dihindarkan.

“Memang, sih, belum ada orang yang bercerai gara-gara ke ipar,” ujarku. Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, ada satu pihak yang tak puas karena dirongrong terus oleh ipar, lama-lama, kan, bisa terjadi perceraian secara psikologis; tinggal satu atap, tapi sudah tak ada lagi hubungan emosional. “Jadi di rumah pun sifatnya sudah lu-lu gue-gue. Secara psikologis sudah saling mandiri dan membuat batas,” lanjutnya. Ya, tetap runyam juga, dong, jadinya.

 If looks could kill, I would have been dead by then. But I didn’t care JJ

Untung aku punya keluarga yang solid..JJ